Sekolah Waldrof

  • gallery
  • gallery

Setiap penggelut teknologi pasti familiar dengan nama Silicon Valley. Sebuah daerah di California, Amerika yang menjadi pusat perusahaan-perusahaan teknologi raksasa di dunia. Sebutlah Google, Apple, Yahoo, Intel, eBay, dan Hewlett-Packard. Namun tahukah Anda, bahwa para petinggi perusahaan tersebut justru menyekolahkan anak-anak mereka ke sekolah yang sama sekali tidak menggunakan teknologi dalam proses belajar mengajarnya? Perangkat yang digunakan sangat klasik : pensil, pulpen dan kertas, papan tulis dengan kapur warna-warni, rak-rak buku berisi ensiklopedi, meja-meja kayu penuh buku-buku tugas, jarum-jarum rajut, dan terkadang juga lumpur. Tak satu komputer pun terlihat.

Sekolah itu adalah Waldorf School of the Peninsula, yang memegang filosofi pendidikan berfokus pada aktivitas fisik dan belajar melalui kegiatan kreatif dan kerajinan tangan. Mereka yang menggunakan pendekatan ini mengatakan bahwa komputer menghambat pergerakan dan daya pikir kreatif, interaksi manusia dan jangkauan perhatian. Salah satu petinggi eksekutif Google yang juga pengguna iPad, Alan Eagle, yang menyekolahkan anaknya di Waldorf menyatakan, ”gagasan bahwa aplikasi iPad dapat mengajari anak saya membaca atau berhitung dengan lebih baik, adalah konyol.” Anaknya bahkan tak tahu bagaimana menggunakan Google. Menurutnya, teknologi punya waktu dan ruangnya sendiri. “Jika saya bekerja di Miramax dan memproduksi film bagus dengan rating R, tentu saya tidak ingin anak saya menontonnya sebelum dia berumur 17 tahun.”

waldof-school
Sejumlah ahli pendidikan mengatakan bahwa tak ada studi yang menunjukkan bahwa penggunaan komputer berdampak pada nilai yang tinggi maupun capaian yang signifikan. Beberapa pemandangan situasi belajar yang tampak di Waldorf antara lain belajar pecahan dengan membagi buah apel atau kue, belajar bahasa dengan menirukan apa yang dikatakan guru sambil bermain lempar-tangkap, belajar pemecahan masalah dan koordinasi dengan merajut kaos kaki, atau belajar perkalian dengan menjadi kalkulator manusia. Namun apakah belajar dengan cara tersebut lebih baik? Mereka mengakui bahwa pada tes tertulis, anak-anak Waldorf mungkin tidak akan mendapat nilai sebaik sekolah-sekolah pada umumnya karena mereka memang tidak menggunakan kurikulum yang standard. Tetapi survei membuktikan bahwa 94% lulusannya antara 1994 dan 2004 berhasil masuk ke kampus-kampus bergengsi seperti Berkeley, Oberlin, dan Vassar.

Filosofi yang dianut sekolah ini, sekalipun telah berusia hampir satu abad, tetap menuai perdebatan. Tak sedikit ahli yang menyatakan bahwa komputer itu penting. Namun banyak pula yang tak setuju. Paul Thomas, salah satu profesor pendidikan yang telah menulis 12 buku tentang metode pendidikan publik, menyatakan, “ Mengajar adalah pengalaman manusiawi. Teknologi menjadi distraksi ketika yang kita butuhkan adalah kemampuan membaca, berhitung, dan berpikir kritis.”

Di saat banyak orang menghendaki anak-anaknya belajar dengan teknologi agar dapat bersaing di era modern, para orang tua Waldorf berujar santai: “Kenapa terburu-buru, bukankah kemampuan-kemampuan untuk menggunakan teknologi itu sangat mudah? Sebagaimana kata Alan Eagle,”

kecanduan-tek
Itu hal yang supermudah. Di Google dan sejenisnya, kami merancang teknologi agar bisa digunakan semudah mungkin. Tak ada alasan bahwa anak-anak tidak bisa menggunakannya saat mereka lebih besar nanti.” Maka tak heran jika bahkan balita pun mampu mengoperasikan gadget dengan piawai.

Murid-murid Waldorf sendiri mengatakan bahwa mereka tidak merana tanpa teknologi. Karena orang tuanya memang bekerja di perusahaan-perusahaan teknologi besar, beberapa anak ada yang terkadang diminta menguji coba game baru atau menonton film di akhir pekan. Mereka malah mengatakan bisa frustrasi ketika orang-orang di sekitarnya terbelenggu gadget. Aurad Kamkar (11 tahun) misalnya, bercerita ketika ia berkunjung ke rumah sepupunya dan duduk di antara lima orang saudaranya yang sibuk dengan gadget masing-masing, sampai-sampai ia harus melambai sambil berteriak: “Hello, aku di sini.” Finn Heilig (10 tahun), yang ayahnya bekerja di Google, lebih suka menulis dengan pulpen dan kertas ketimbang mengetik dengan komputer, karena ia bisa memonitor perkembangannya. “Kau bisa melihat ke belakang betapa awut-awutannya tulisanmu di kelas 1. Tapi kau tidak bisa melakukannya dengan komputer karena semua hurufnya sama.”

Nah, masihkah Anda ngotot menjejali anak-anak dengan kemampuan penguasaan teknologi?

Sumber : http://salamyogyakarta.com/sekolah-waldorf/

    2 Comments

  1. Yuli
    2 April 2017
    Balas

    A hundred persen agree!!

    • admin
      3 Juli 2017
      Balas

      thank you

Leave A Reply

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *